Sabtu, 19 Maret 2011

Cerita Pendek - Akan Aku Raih Cita-citaku Walaupun Setinggi Langit

            Hujan mengguyur kota pada sore itu. Langit mendung yang tak berahabat menambah kengerian dikala sore yang sangat gelap.
            “Rah, jangan pergi sendirian. Aku akan menemanimu membantu mengangkat barang dagangan ibumu itu !”.
            Sarah tak menyahut. Ia hanya terus berjalan membawa payung ditangannya. Ia tak menggubris temannya itu. Ia harus segera bergegas menjemput ibunya di pasar. Hari telah sore, dan hujan sudah mulai deras saja.
            Setelah 5 menit ia berjalan dari rumahnya, ia harus segera bergegas masuk ke pintu masuk pasar. Tak ditolehna kanan kiri saat menyebrang. Hampir saja, pengemudi motor mencelakainya. Tak henti-hentinya pengemudi motor itu mengumpat. Tak dihiraukannya umpatan pengemudi motor tersebut.
            Setelah masuk pintu utama pasara, ia harus mencari ibunya dikerumunan para pedagang pasaar yang mulai memberesi dagangan mereka.
            “Ibu !. Ayo lekaslah. Hujan sudah deras”. Sarah berbicara dengan terengah-engah.
            “Ya. Cuman bawa satu payung?”.
            “tadi tak sempat. Payung dirumah hanya ini saja. Yang lain ditinggal bapak di sawah”.
            “Bapakmu sudah pulang?”.
            ”Sudah”
            Mereka terus bergegas mencari becak untuk pulang ke rumah. Hujan deras tak mengijinkan mereka untuk berjalan menggunakan payung.
ÝÝÝ
            “Bu, kalau aku sudah lulus SMP aku mau mendaftar di sekolah Kejuruan Keperawatan ya!”.
            “Tak usah sekolah lagi. Kamu anak perempuan. Setelah lulus SMP kamu harus mulai belajar menjadi istri yang baik dan membantu ibu berjualan di pasar.”
            Tapi bu, aku haus sekolah. Apa ibu tak kuat menyokolahkan aku lagi?”.
            “Bukan sola uang. Tapi kau harus membantu ibu di pasar. Apa gunanya anak perempuan sekolah tinggi-tinggi dan pada akhirnya juga kau hatus mengurusi suami dan kerjanya hanya di dapur saja?”.
            “Tapi bu...”
            Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Ternyata bapak membawa seorang tamu yang tak aing lagi bagi keluarga Sarah.
            “Bu, ini loh. Ada nak Udin yang mau main ke sini”.
            Ibu segera keluar untuk menemui Bapak dan Bang Udin. Ibu tak melanjutkan perdebatannya dengan Sarah.
            “Eh nak Udin. Sarah ! Ayo ke sini. Udin datang untuk menemuimu”.
            Sarah hanya menggerutu dan cemberut menyambut Udin datang ke rumahnya. Dalam hati ia berkata, “Ya Allah. Hah. Ini gara-gara bang Udin yang menghasud kedua orang tuaku. Udin menghasudnya agar aku dikawinkan dengannya dan ibu mendapat memperlebar kiosnya dipasar.Tak hanya itu, Udin berjanji akan memberi 10 hektar sawah dan 10 kambing jantan ke bapak. Ya Allah, kenapa aku harus ditakdirkan seperti ini?. Aku tak mau menikah dengannya dan tak mau menjadi orang bodoh yang ia bohongi belaka. Lagi pula ia sudah punya 2 istri lainnya”
            “Sarah, kau harus menjamunya dengan ramah, jangan kau lipat wajahmu itu !” perintah bapak kepada Sarah.
            “Ya sudah. Kami tinggal dulu ya nak Udin”.
           Lalu, ibu dan bapak lekas masuk kedalam rumah dan meninggalkan mereka berdua untuk berbincang-bincang.
            “Sore dik Sarah. Apa kabar?”
            “Sore. Aku tadinya baik, tapi sekarang rasanya hatiku buruk sekali”.
            “Karena ada aku ya?”
            Sarah hanya terdiam dan tak menanggapinya lagi. Kemudian ibu masuk membawa nampan berisi 2 buah teh dan beberapa toples makanan kecil di dalamnya.
            “Loh Sarah itu gimana, kok nak Udin tidak diajak duduk?. Duduk nak Udin silahkan. Dan ini, makanan kecilnya juga dimakan juga ya !”.
            “Iya bu”.
            “Ya sudah, ibu tinggal dulu ke dalam ya!”.
            “Ya bu. Jangan khawatir. Dik Sarah anaknya ramah kok bu”.
            Ibu lalu menatap tajam ke arah Sarah dan memberi isyarat agar ramah jika berbicara dengan Udin. Sarah hanya memalingkan wajah tak peduli dengan isyarta ibu itu.
            “Gimana sekolahnya dik?. Sebentar lagi ujian kan?. Belajar giat ya!”.
            “Kenapa kau mempedulikan kau?. Seharusnya kau juga tak usah berkata belajar giat walaupun aku belajar giat aku juga harus melaksanakan perintah orang tuaku yang sangat menyebalkan. Sudahlah bang, ini sudah hampir maghrib pula. Pulanglah ke rumah untuk menemui kedua istrimu dan bermainlah bersama anak-anakmu itu dari pada kau harus disini menemuiku dan aku tak mau menemuimu”.
            Memang hari itu telah sore. Salawat yang biasanya dikumandangkan untuk menandakan bahwa akan menjelang maghrib sudah berkumandang sedari tadi. Udin lalu beranjak dari tempat duduknya dan meminta pamit kepada orang tua Sarah dan Sarah.
            “Pak, Bu, saya pamit dulu. Sudah hampir maghrib !”.
            Lalu ibu dan bapak keluar dari dalam untuk menemui udin untuk berpamitan.
            “Lho, kok cepat-cepat pulang kan baru sebentar. 1 jam saja belum. Kok terburu-buru”  tanya bapak.
            “Ah tak apa. Lagi pula ini mau maghrib pak. Saya tak enak dengan keluarga bapak. Lagi pula Sarah harus belajar untuk ujiannya agar lulus dengan nilai yang baik. Ya sudah ya pak, saya pulang dulu. Mari pak, bu “.
            “Ya nak. Hati-hati dijalan !” pesan ibu pada Udin kala itu.
            Sarah segera masuk kedalam dan mengunci dirinya di dalam pintu. Ia tak mengantar udin samapi ke depan pintu rumah seprti kedua orang tuanya. Ia menahan tangis yang sedari tadi ia tahan. Tak ada gunanya menhan tangis lagi pikirnya. Air matanya lalu menucur deras ke pipinya itu. Rasanya hangat sekali air matanya, rasanya dalam hatinyaIa tertidur dalam tangis harapnya  di atas kasurnya itu.
ÝÝÝ
            Suara adzan subuh yang terdengar merdu membangunkan tidurnya saat itu. Hatinya bergerak menyuruh tubuhnya agar segera bangun dan menemukan suara merdu itu. Ia berjalan menemukan suara yang merdu dan dapat menggerakan hatinya itu.
            Tubuhnya rasanya sangat ringan untuk berjalan. Apakah ini hanya mimpi? batinnya. Ah ternyata bukan. Orang-orang terlihat mengenakan mukena putih bagi yang perempuan dan bersarung bersih dan memakai peci yang indah dikepalanya untuk lelaki. Begitu indah rasanya menemuan pemandangan yang menyejukana itu.
            Sarah hanya terpaku diam memperhatikan. Ia tak sadar bahwa ada seorang yang bertangan lembut membelai rambutnya itu.
            “Sarah, kamu sedang apa disini?”.
            “Ah, Tia. Aku mencari suara merdu itu”
            Tia tersentum bahagia melihat Sarah yang dapat mendengar suara merdu dari adzan subuh kala itu. Ia lalu mengajaknya ,asuk untuk sholat subuh.
            “Ayo Rah masuk. Kita sholat berjamaah bersama ya!”.
            “Sholah, Ah. Aku malu Tia. Aku tak mengenakan mukena putih sepertimu”.
            “Ah jangan malu. Didalam masjid ada mukena yang dapat dipakai. Tak usah malu. Ayo Rah masuk !”.
            Sarah tersenyum dan mengangguk bahagia. Rasa yang tadinya berkecamuk tak karu-karuan hilang begitu saja saat Sarah mengikuti sholat berjamaah subuh kala itu. Hatinya begitu tenang dan bahagia. Rasa damai dan hilang kebingungannya juga menghilang begitu saja.
            Ia sholat dengan khusuk menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Hatinya sangat damai dan sejuk melantunkan firman-firman Allah. Kebahagiaanya tak terbendung lagi. Sarah menitikan air matanya dipipinya itu.
            Setelah salam untuk mengakhiri shlat jamaah, Sarah lalu memeluk sahabtanya dari kecil itu dengan tangisnya.
            “Tia, a a aku terimaksih banyak sama kamu. Kamu memang orang yang sangat mengerti aku  terimakasih ya !”.
            “Ah, iya Rah sama-sama. Kalau kamu mau, kita bisa setiap hari seperti ini. Kita sama-sama pergi ke masjid unutk berjamaah sholat disini. Ok?”
            Sarah mengangguk senang Tia menghapus air mata Sarah yang sudah hampir membasahi semua pipi Sarah. Mereka berdua tersenyum dan saling berpelukan.
ÝÝÝ
            Saat Sarah pulang kerumah dan akan membuka pintu, terlihat bapak yang akan berkemas untuk pergi ke sawah.
            “Kamu dari mana Rah?”  tanya bapak.
            “Aku dari masjid. Aku tadi sholay subuh berjamaah disana”.
            “Oh. Ya baguslah. Jangan lupa nanti bapak bawakan makan siangnya ya !. Belajarlah memasakan yang lain. Bapak sudah bosan dengan sayur bayam, ikan asin, dan sambal terasi. Ok?”
            “Iya Pak !”.
            Sarah lalu menyalami tangan bapaknya dan menciumnya. Bapaknya terlihat kaget akan perubahan itu. Yang biasanya Sarah hanya menggerutu jika disuruh membawakan makan siang untuk bapaknya dan tak pernah menyium tangan bapaknya itu.Bapknya hanya tersenyum sambil mengelus kepala anaknya itu.
            Sarah lalu masuk dengan wajah yang berseri-seri. Ibunya bingung dengan keadaanya kala itu.
            “Kamu kenpa Rah?. Pagi-pagi kok sudah senyam-senyum sendiri?”.
            “Tak apa bu. Cuman senang biasa kok”.
            “Oh ya sudah, ibu pikir kamu sakit. Hahahaha”.
            “Ah ibu. Jangan bilang begitu ah. Kata ustadzah, perkataan seorang ibu adalah suatu doa bagi anaknya”.
            “Ah, ibu tak berdoa. Ibu hanya bercanda. Sarah, nanti kamu jangan lupa beres-beres rumah ya!. Ibu pulang sore lagi. Jangan lupa nanti bapak diantar makan siangnya !”.
            “Ya bu !”.
            Sarah lalu meraih tangan ibunya dan mencium tangan ibunya itu. Ibunya juga kaget akan perilaku Sarah kala itu. Ibu lalu tersenyum sambil terkejut dan mengelus lembut kepala anak semata wayangnya itu.
ÝÝÝ
            Hari sudah menjelang siang. Seperti janji mereka tadi, Tia akan membantu Sarah untuk memasak makan siang untuk diantar kepada bapak Sarah di sawah.
            “Assalamu’alaikum !”.
            “Waalaikumsalam. Tia, masuk ayo !”.
            “Ya. Gimana ini?, jadikan Rah?”.
            sarah mengangguk senang. Mereka segera menyiapkan bahan-bahan yang akan dibuat mereka menjadi makan siang. Sudah 1 jam mereka memasak makan siang tersebut. Ternyata sudah jadi. Lalu mereka mengemasi makanan tersebut kedalam rantang untuk dibawa ke sawah. Tak lupa mereka membawa makan siang untuk mereka sendiri. Mereka ingin makan siang di gubug tengah sawah milih keluarga Sarah.
            Jalan yang berliku-liku dan licin membuat mereka harus berhati-hati dalam membawa bawaan mereka. Sudah 10 menit mereka berjalan dari rumah menuju sawah.
            “Bapak !. Ini makanannya. Aku taruh didalam gubug ya!”.
            “Ya Rah !” jawab bapak sambil berteriak.
            “Wah enak ya, kalau setiap hari seperti ini. Kamu beruntung Rah bisa berkecukupan. Bukannya aku iri. tapi kamu harus Rah. kamu diberi Allah rizqi yang berlimpah ruah”.
            “Tapi itu tak akan membuatku bahagia Tia. Aku malah sedih. Bukannya aku tak bersyukur. Tapi apa lah buat. Takdirku melenceng dari mimpiku”.
            “Kamu bisa kok mengubah takdir !”.
            “Bagaimana caranya?”.
            “Berdoalah dan selalu berusaha. Allah pasti akan dapat merubah takdirmu itu. kata ustadzah, takdir dapat berperang hebat dengan doa dan usaha yang kamu lakukan. Jika doa dan usahamu yang menag, takdirmu akan berubah. Jadi kamu jangan sedih Rah !”.
            “Tia. terima kasih. Aku sangat beruntung punya teman seprti kamu. Terima kasih Tia !”.
            Mereka lalu berpelukan. sarah menyakini perkataan Tia itu. Ia terus berusaha dan terus berdoa kepada Allah agar cita-citanya dapat ia raih.
ÝÝÝ
            Hari itupun tiba. Hari penentuan baginya untuk lulus SMP atau tidak lulus. Para orang tua murid berdatangan untuk mengambil ijazah anak-anak mereka dan mengambil surat kelulusan anak mereka. Kecuali sarah. Ibu dan bapak Sarah sangat sibuk bekerja dan tak memperdulikan jurusan pendidikan anaknya itu. Maka dari itu, mereka menyuruh Sarah untuk berdagang saja dan menikah dengan Udin, juragan tembakau yang kaya di kampungnya.
            rtapi beruntunglah Sarah. Surat pemberi tahuan itu diambil oleh ibunya Tia sahabatnya. Bu Tari menjadi wali Sarah kala itu. Saat Sarah dan Tia membuka bersama-sama surat itu, ternyat mereka lulus dengan nilai tertinggi di sekolah. Betapa bahagianya hidup mereka.
ÝÝÝ
            Malam harinya, Sarah membicarakan tentang nilainya yang menjadi tertinggi di sekolah. Kedua orang tuanya tak menggubris berita tersebut dan menganggapnya biasa saja.
            “Sudah lah Rah, kamu ditakdirkan menjadi seorang permpuan dan kau harus berbakti kepada orang tuamu kan?”.
            “Tapi bu, aku harus melanjutkan sekolahku. Aku akan menjadi perawat dan aku akan hidup mandiri dengan bekerja menjadi perawat bu. Aku tak sendiri belajnar. aku akan satu jurusan dengan Tia bu !”.
            “Tak usah. Kita sudah berjanji dengan Udin untuk menikahkanmu dengannya. Lagi pula kamu mau makan apa dengan profesi perawat?. Makan batu?. Orang tua juga memikirkan kehidupan yang enak untuk anaknya Sarah”.
            “Tapi ibu dan bapak tak tahu kebahagianku !. Ibu tak mau tahu aku begini dan begitu. Ibu. Ibu. Ibu jahat !”.
            Sarah menangis dan berlari kedalam kamarnya. Ibunya hanya terdiam. bapaknya lalu menyusulnya ke dalam kamar. Bapak mengetuk pintu dan bertanya keadanya sekarang. Tapi sarah tak menjawab. Ia terus menagis.
            Dalam tangisnya, ia lalu menambil mukena putih untuk sholah tahjud dan memohon petunjuk kepada Allah agar cita-citanya dapat terwujud. Ia mendapat hidayah dari Allah. “Ya allah, bantulah aku ya Allah. Aku akan bersekolah tanpa restu kedua orang tuaku. Aku akan bekerja sendiri untuk mencukupi kebutuhan sekolahku. Tolonglah hambamu untuk beribadah Ya Allah”
ÝÝÝ
            Keesokan harinya, Sarah menghadap kedua orang tuanya dan menerima udin sebagai suaminya dengan syarat, ia dikawinkan saat umurnya 20 tahun saja. Ia tak mau menikah muda. Orang tuanya menyanggupi.
            Pada saat itulah, semangat Sarah untuk bangkit kembali. Tetapi ia harus mencari pekerjaan yang dapat mencukupi kebutuhan sekolahnya itu. Saat ia berjalan bersama Tia menulusuri sawah seperti biasanya, ia bertemu dengan pak Toni pengrajin batu bata.
            “Assalamualaikum pak !’ sapa Sarah.
            “Waalaikumsalam”.
            “Pak Toni sedang apa?”.
            “Begini, aku kekurangan orang untuk membuat bata. jadi aku juga harus bekerja. Ada banyak order”.
            “Mmmm. Apa kita bisa bantu?. Tapi aa uangnya kan?” tanya Sarah dan Tia.
            “Ya bisa. Tapi 1 bata Rp. 500,00. Bagaimana?. 1 Hari kalian harus mengerjakan minimal 30 bata !”.
            “Ya. kami sanggup pak !. Kapan kami dapat bekerja?”
            “Hari ini juga bisa. nanti aku ajari dahulu”
            sarah dan Tia sangat senang dapat mengisi liburan ini dengan bekerja bersama. Lagi pula, bagi Sarah inidapat membantunya mencukupi kebutuhan sekolahnya. Belum lagi jatah mingguan dari ibunya yang dapat menambah uangnya bertambah. Betapa bahagianya dia.
            Sudah 3 minggu ia bekerja menjadi seorang pengrajin bata. Uang yang terkumpul juga sudah dapat mencukupinya untuk mendaftar. Tapi uangnya masih kurang untuk membeli seragam. Ia ingin membeli seragam dengan jilbab.
            Sarah pikir ia harus melakukan kerja lembur untuk mendapatkan ang agar mencukupi kebutuhan untuk membeli seragam. Ia bekerja dari siang sepulang sekolah sampai adzan ashar.
            Memang sulit ia untuk sekolah. Ia harus menyembunyikan seragamnya dan mengganti bajunya di mushalla dekat sekolahnya itu. Kadang orang tuanya merasa bingung kenapa sarah tak mau membantu ibunya berdagang dan hanya mau menjaga rumah saja. Tapi pikir ibunya itu lebih baik dari pada Sarah harus belajar menjadi perawat.
            Sudah 2 minggu sarah melakukan kerja lembur demi seragam sekolah itu. Tapi ketahanan tubuhnya mulai menurun. Saat upacara sekolah, ia terlihat sangat pucat dan lalu pingsan. Lalu Sarah dibawa ke Rumah sakit. Dan ternyata ia terkena penyakit tipus. Sarah tak sadarkan diri. Ia pingsan dan tertidurbeberapa lama.
            Lalu, dari pihak sekolah memanggil kedua orang tua Sarah. Ibua dan bapaknya yang tak tahu menahu tentang Sarah bersekolah sangat bingung dicampur marah. tetapi, segeralah Tia menjelaskan bahwa, setiap harinya, Sarah harus bekerja menjadi pengrajin bata sepulang sekolah sampai menjelang ashar. Ia juga harus suah untuk berjalan kaki sejauh 2 kilometer untuk menghemat baiya.
            Kedua orang tua Sarah kaget bukan main. Mereka lalu menunggui Sarah di Rumah Sakit sambil berharap Sarah segera sembuh.
            “Ha? Astaghfirullah. Ini diman?. Ibu? Bapak?”.
            “Sarah !. Kamu memang anak yang sangat nakal. Kamu melanggar perintah orang rua !”. Ucap ibu Sarah sambil menangis dan memeluknya dalam dekapannya.
            “Kamu tak perlu melakukan ini untuk hanya bisa bersekolah. Kamu pikir ibu tak mampu?. Kalau kamu mau sekolah, kamu harus janji pada ibu agar kamu mau bersungguh-sungguh tak dan bekerja lagi !” perintah ibu Sarah sambil menagis.
            Sarah tersenyum bahagia dan menjawab, “Iya bu. aku janji, aku akan menjadi perawat yang baik dan tak akan lagi menyembunyikannya dari ibu dan bapak”
            Kedua orang tua Sarah lalu tersadar akan kesungguhan Sarah untuk meraih cita-citanya itu. Merak membatalkan perjanjian mereka akan menikahkan Sarah dengan Udin dan Sarah dapat belajar dengan nyaman bersama teman-temannya tanpa halangan lagi.
ÝÝÝ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sabtu, 19 Maret 2011

Cerita Pendek - Akan Aku Raih Cita-citaku Walaupun Setinggi Langit

            Hujan mengguyur kota pada sore itu. Langit mendung yang tak berahabat menambah kengerian dikala sore yang sangat gelap.
            “Rah, jangan pergi sendirian. Aku akan menemanimu membantu mengangkat barang dagangan ibumu itu !”.
            Sarah tak menyahut. Ia hanya terus berjalan membawa payung ditangannya. Ia tak menggubris temannya itu. Ia harus segera bergegas menjemput ibunya di pasar. Hari telah sore, dan hujan sudah mulai deras saja.
            Setelah 5 menit ia berjalan dari rumahnya, ia harus segera bergegas masuk ke pintu masuk pasar. Tak ditolehna kanan kiri saat menyebrang. Hampir saja, pengemudi motor mencelakainya. Tak henti-hentinya pengemudi motor itu mengumpat. Tak dihiraukannya umpatan pengemudi motor tersebut.
            Setelah masuk pintu utama pasara, ia harus mencari ibunya dikerumunan para pedagang pasaar yang mulai memberesi dagangan mereka.
            “Ibu !. Ayo lekaslah. Hujan sudah deras”. Sarah berbicara dengan terengah-engah.
            “Ya. Cuman bawa satu payung?”.
            “tadi tak sempat. Payung dirumah hanya ini saja. Yang lain ditinggal bapak di sawah”.
            “Bapakmu sudah pulang?”.
            ”Sudah”
            Mereka terus bergegas mencari becak untuk pulang ke rumah. Hujan deras tak mengijinkan mereka untuk berjalan menggunakan payung.
ÝÝÝ
            “Bu, kalau aku sudah lulus SMP aku mau mendaftar di sekolah Kejuruan Keperawatan ya!”.
            “Tak usah sekolah lagi. Kamu anak perempuan. Setelah lulus SMP kamu harus mulai belajar menjadi istri yang baik dan membantu ibu berjualan di pasar.”
            Tapi bu, aku haus sekolah. Apa ibu tak kuat menyokolahkan aku lagi?”.
            “Bukan sola uang. Tapi kau harus membantu ibu di pasar. Apa gunanya anak perempuan sekolah tinggi-tinggi dan pada akhirnya juga kau hatus mengurusi suami dan kerjanya hanya di dapur saja?”.
            “Tapi bu...”
            Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Ternyata bapak membawa seorang tamu yang tak aing lagi bagi keluarga Sarah.
            “Bu, ini loh. Ada nak Udin yang mau main ke sini”.
            Ibu segera keluar untuk menemui Bapak dan Bang Udin. Ibu tak melanjutkan perdebatannya dengan Sarah.
            “Eh nak Udin. Sarah ! Ayo ke sini. Udin datang untuk menemuimu”.
            Sarah hanya menggerutu dan cemberut menyambut Udin datang ke rumahnya. Dalam hati ia berkata, “Ya Allah. Hah. Ini gara-gara bang Udin yang menghasud kedua orang tuaku. Udin menghasudnya agar aku dikawinkan dengannya dan ibu mendapat memperlebar kiosnya dipasar.Tak hanya itu, Udin berjanji akan memberi 10 hektar sawah dan 10 kambing jantan ke bapak. Ya Allah, kenapa aku harus ditakdirkan seperti ini?. Aku tak mau menikah dengannya dan tak mau menjadi orang bodoh yang ia bohongi belaka. Lagi pula ia sudah punya 2 istri lainnya”
            “Sarah, kau harus menjamunya dengan ramah, jangan kau lipat wajahmu itu !” perintah bapak kepada Sarah.
            “Ya sudah. Kami tinggal dulu ya nak Udin”.
           Lalu, ibu dan bapak lekas masuk kedalam rumah dan meninggalkan mereka berdua untuk berbincang-bincang.
            “Sore dik Sarah. Apa kabar?”
            “Sore. Aku tadinya baik, tapi sekarang rasanya hatiku buruk sekali”.
            “Karena ada aku ya?”
            Sarah hanya terdiam dan tak menanggapinya lagi. Kemudian ibu masuk membawa nampan berisi 2 buah teh dan beberapa toples makanan kecil di dalamnya.
            “Loh Sarah itu gimana, kok nak Udin tidak diajak duduk?. Duduk nak Udin silahkan. Dan ini, makanan kecilnya juga dimakan juga ya !”.
            “Iya bu”.
            “Ya sudah, ibu tinggal dulu ke dalam ya!”.
            “Ya bu. Jangan khawatir. Dik Sarah anaknya ramah kok bu”.
            Ibu lalu menatap tajam ke arah Sarah dan memberi isyarat agar ramah jika berbicara dengan Udin. Sarah hanya memalingkan wajah tak peduli dengan isyarta ibu itu.
            “Gimana sekolahnya dik?. Sebentar lagi ujian kan?. Belajar giat ya!”.
            “Kenapa kau mempedulikan kau?. Seharusnya kau juga tak usah berkata belajar giat walaupun aku belajar giat aku juga harus melaksanakan perintah orang tuaku yang sangat menyebalkan. Sudahlah bang, ini sudah hampir maghrib pula. Pulanglah ke rumah untuk menemui kedua istrimu dan bermainlah bersama anak-anakmu itu dari pada kau harus disini menemuiku dan aku tak mau menemuimu”.
            Memang hari itu telah sore. Salawat yang biasanya dikumandangkan untuk menandakan bahwa akan menjelang maghrib sudah berkumandang sedari tadi. Udin lalu beranjak dari tempat duduknya dan meminta pamit kepada orang tua Sarah dan Sarah.
            “Pak, Bu, saya pamit dulu. Sudah hampir maghrib !”.
            Lalu ibu dan bapak keluar dari dalam untuk menemui udin untuk berpamitan.
            “Lho, kok cepat-cepat pulang kan baru sebentar. 1 jam saja belum. Kok terburu-buru”  tanya bapak.
            “Ah tak apa. Lagi pula ini mau maghrib pak. Saya tak enak dengan keluarga bapak. Lagi pula Sarah harus belajar untuk ujiannya agar lulus dengan nilai yang baik. Ya sudah ya pak, saya pulang dulu. Mari pak, bu “.
            “Ya nak. Hati-hati dijalan !” pesan ibu pada Udin kala itu.
            Sarah segera masuk kedalam dan mengunci dirinya di dalam pintu. Ia tak mengantar udin samapi ke depan pintu rumah seprti kedua orang tuanya. Ia menahan tangis yang sedari tadi ia tahan. Tak ada gunanya menhan tangis lagi pikirnya. Air matanya lalu menucur deras ke pipinya itu. Rasanya hangat sekali air matanya, rasanya dalam hatinyaIa tertidur dalam tangis harapnya  di atas kasurnya itu.
ÝÝÝ
            Suara adzan subuh yang terdengar merdu membangunkan tidurnya saat itu. Hatinya bergerak menyuruh tubuhnya agar segera bangun dan menemukan suara merdu itu. Ia berjalan menemukan suara yang merdu dan dapat menggerakan hatinya itu.
            Tubuhnya rasanya sangat ringan untuk berjalan. Apakah ini hanya mimpi? batinnya. Ah ternyata bukan. Orang-orang terlihat mengenakan mukena putih bagi yang perempuan dan bersarung bersih dan memakai peci yang indah dikepalanya untuk lelaki. Begitu indah rasanya menemuan pemandangan yang menyejukana itu.
            Sarah hanya terpaku diam memperhatikan. Ia tak sadar bahwa ada seorang yang bertangan lembut membelai rambutnya itu.
            “Sarah, kamu sedang apa disini?”.
            “Ah, Tia. Aku mencari suara merdu itu”
            Tia tersentum bahagia melihat Sarah yang dapat mendengar suara merdu dari adzan subuh kala itu. Ia lalu mengajaknya ,asuk untuk sholat subuh.
            “Ayo Rah masuk. Kita sholat berjamaah bersama ya!”.
            “Sholah, Ah. Aku malu Tia. Aku tak mengenakan mukena putih sepertimu”.
            “Ah jangan malu. Didalam masjid ada mukena yang dapat dipakai. Tak usah malu. Ayo Rah masuk !”.
            Sarah tersenyum dan mengangguk bahagia. Rasa yang tadinya berkecamuk tak karu-karuan hilang begitu saja saat Sarah mengikuti sholat berjamaah subuh kala itu. Hatinya begitu tenang dan bahagia. Rasa damai dan hilang kebingungannya juga menghilang begitu saja.
            Ia sholat dengan khusuk menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Hatinya sangat damai dan sejuk melantunkan firman-firman Allah. Kebahagiaanya tak terbendung lagi. Sarah menitikan air matanya dipipinya itu.
            Setelah salam untuk mengakhiri shlat jamaah, Sarah lalu memeluk sahabtanya dari kecil itu dengan tangisnya.
            “Tia, a a aku terimaksih banyak sama kamu. Kamu memang orang yang sangat mengerti aku  terimakasih ya !”.
            “Ah, iya Rah sama-sama. Kalau kamu mau, kita bisa setiap hari seperti ini. Kita sama-sama pergi ke masjid unutk berjamaah sholat disini. Ok?”
            Sarah mengangguk senang Tia menghapus air mata Sarah yang sudah hampir membasahi semua pipi Sarah. Mereka berdua tersenyum dan saling berpelukan.
ÝÝÝ
            Saat Sarah pulang kerumah dan akan membuka pintu, terlihat bapak yang akan berkemas untuk pergi ke sawah.
            “Kamu dari mana Rah?”  tanya bapak.
            “Aku dari masjid. Aku tadi sholay subuh berjamaah disana”.
            “Oh. Ya baguslah. Jangan lupa nanti bapak bawakan makan siangnya ya !. Belajarlah memasakan yang lain. Bapak sudah bosan dengan sayur bayam, ikan asin, dan sambal terasi. Ok?”
            “Iya Pak !”.
            Sarah lalu menyalami tangan bapaknya dan menciumnya. Bapaknya terlihat kaget akan perubahan itu. Yang biasanya Sarah hanya menggerutu jika disuruh membawakan makan siang untuk bapaknya dan tak pernah menyium tangan bapaknya itu.Bapknya hanya tersenyum sambil mengelus kepala anaknya itu.
            Sarah lalu masuk dengan wajah yang berseri-seri. Ibunya bingung dengan keadaanya kala itu.
            “Kamu kenpa Rah?. Pagi-pagi kok sudah senyam-senyum sendiri?”.
            “Tak apa bu. Cuman senang biasa kok”.
            “Oh ya sudah, ibu pikir kamu sakit. Hahahaha”.
            “Ah ibu. Jangan bilang begitu ah. Kata ustadzah, perkataan seorang ibu adalah suatu doa bagi anaknya”.
            “Ah, ibu tak berdoa. Ibu hanya bercanda. Sarah, nanti kamu jangan lupa beres-beres rumah ya!. Ibu pulang sore lagi. Jangan lupa nanti bapak diantar makan siangnya !”.
            “Ya bu !”.
            Sarah lalu meraih tangan ibunya dan mencium tangan ibunya itu. Ibunya juga kaget akan perilaku Sarah kala itu. Ibu lalu tersenyum sambil terkejut dan mengelus lembut kepala anak semata wayangnya itu.
ÝÝÝ
            Hari sudah menjelang siang. Seperti janji mereka tadi, Tia akan membantu Sarah untuk memasak makan siang untuk diantar kepada bapak Sarah di sawah.
            “Assalamu’alaikum !”.
            “Waalaikumsalam. Tia, masuk ayo !”.
            “Ya. Gimana ini?, jadikan Rah?”.
            sarah mengangguk senang. Mereka segera menyiapkan bahan-bahan yang akan dibuat mereka menjadi makan siang. Sudah 1 jam mereka memasak makan siang tersebut. Ternyata sudah jadi. Lalu mereka mengemasi makanan tersebut kedalam rantang untuk dibawa ke sawah. Tak lupa mereka membawa makan siang untuk mereka sendiri. Mereka ingin makan siang di gubug tengah sawah milih keluarga Sarah.
            Jalan yang berliku-liku dan licin membuat mereka harus berhati-hati dalam membawa bawaan mereka. Sudah 10 menit mereka berjalan dari rumah menuju sawah.
            “Bapak !. Ini makanannya. Aku taruh didalam gubug ya!”.
            “Ya Rah !” jawab bapak sambil berteriak.
            “Wah enak ya, kalau setiap hari seperti ini. Kamu beruntung Rah bisa berkecukupan. Bukannya aku iri. tapi kamu harus Rah. kamu diberi Allah rizqi yang berlimpah ruah”.
            “Tapi itu tak akan membuatku bahagia Tia. Aku malah sedih. Bukannya aku tak bersyukur. Tapi apa lah buat. Takdirku melenceng dari mimpiku”.
            “Kamu bisa kok mengubah takdir !”.
            “Bagaimana caranya?”.
            “Berdoalah dan selalu berusaha. Allah pasti akan dapat merubah takdirmu itu. kata ustadzah, takdir dapat berperang hebat dengan doa dan usaha yang kamu lakukan. Jika doa dan usahamu yang menag, takdirmu akan berubah. Jadi kamu jangan sedih Rah !”.
            “Tia. terima kasih. Aku sangat beruntung punya teman seprti kamu. Terima kasih Tia !”.
            Mereka lalu berpelukan. sarah menyakini perkataan Tia itu. Ia terus berusaha dan terus berdoa kepada Allah agar cita-citanya dapat ia raih.
ÝÝÝ
            Hari itupun tiba. Hari penentuan baginya untuk lulus SMP atau tidak lulus. Para orang tua murid berdatangan untuk mengambil ijazah anak-anak mereka dan mengambil surat kelulusan anak mereka. Kecuali sarah. Ibu dan bapak Sarah sangat sibuk bekerja dan tak memperdulikan jurusan pendidikan anaknya itu. Maka dari itu, mereka menyuruh Sarah untuk berdagang saja dan menikah dengan Udin, juragan tembakau yang kaya di kampungnya.
            rtapi beruntunglah Sarah. Surat pemberi tahuan itu diambil oleh ibunya Tia sahabatnya. Bu Tari menjadi wali Sarah kala itu. Saat Sarah dan Tia membuka bersama-sama surat itu, ternyat mereka lulus dengan nilai tertinggi di sekolah. Betapa bahagianya hidup mereka.
ÝÝÝ
            Malam harinya, Sarah membicarakan tentang nilainya yang menjadi tertinggi di sekolah. Kedua orang tuanya tak menggubris berita tersebut dan menganggapnya biasa saja.
            “Sudah lah Rah, kamu ditakdirkan menjadi seorang permpuan dan kau harus berbakti kepada orang tuamu kan?”.
            “Tapi bu, aku harus melanjutkan sekolahku. Aku akan menjadi perawat dan aku akan hidup mandiri dengan bekerja menjadi perawat bu. Aku tak sendiri belajnar. aku akan satu jurusan dengan Tia bu !”.
            “Tak usah. Kita sudah berjanji dengan Udin untuk menikahkanmu dengannya. Lagi pula kamu mau makan apa dengan profesi perawat?. Makan batu?. Orang tua juga memikirkan kehidupan yang enak untuk anaknya Sarah”.
            “Tapi ibu dan bapak tak tahu kebahagianku !. Ibu tak mau tahu aku begini dan begitu. Ibu. Ibu. Ibu jahat !”.
            Sarah menangis dan berlari kedalam kamarnya. Ibunya hanya terdiam. bapaknya lalu menyusulnya ke dalam kamar. Bapak mengetuk pintu dan bertanya keadanya sekarang. Tapi sarah tak menjawab. Ia terus menagis.
            Dalam tangisnya, ia lalu menambil mukena putih untuk sholah tahjud dan memohon petunjuk kepada Allah agar cita-citanya dapat terwujud. Ia mendapat hidayah dari Allah. “Ya allah, bantulah aku ya Allah. Aku akan bersekolah tanpa restu kedua orang tuaku. Aku akan bekerja sendiri untuk mencukupi kebutuhan sekolahku. Tolonglah hambamu untuk beribadah Ya Allah”
ÝÝÝ
            Keesokan harinya, Sarah menghadap kedua orang tuanya dan menerima udin sebagai suaminya dengan syarat, ia dikawinkan saat umurnya 20 tahun saja. Ia tak mau menikah muda. Orang tuanya menyanggupi.
            Pada saat itulah, semangat Sarah untuk bangkit kembali. Tetapi ia harus mencari pekerjaan yang dapat mencukupi kebutuhan sekolahnya itu. Saat ia berjalan bersama Tia menulusuri sawah seperti biasanya, ia bertemu dengan pak Toni pengrajin batu bata.
            “Assalamualaikum pak !’ sapa Sarah.
            “Waalaikumsalam”.
            “Pak Toni sedang apa?”.
            “Begini, aku kekurangan orang untuk membuat bata. jadi aku juga harus bekerja. Ada banyak order”.
            “Mmmm. Apa kita bisa bantu?. Tapi aa uangnya kan?” tanya Sarah dan Tia.
            “Ya bisa. Tapi 1 bata Rp. 500,00. Bagaimana?. 1 Hari kalian harus mengerjakan minimal 30 bata !”.
            “Ya. kami sanggup pak !. Kapan kami dapat bekerja?”
            “Hari ini juga bisa. nanti aku ajari dahulu”
            sarah dan Tia sangat senang dapat mengisi liburan ini dengan bekerja bersama. Lagi pula, bagi Sarah inidapat membantunya mencukupi kebutuhan sekolahnya. Belum lagi jatah mingguan dari ibunya yang dapat menambah uangnya bertambah. Betapa bahagianya dia.
            Sudah 3 minggu ia bekerja menjadi seorang pengrajin bata. Uang yang terkumpul juga sudah dapat mencukupinya untuk mendaftar. Tapi uangnya masih kurang untuk membeli seragam. Ia ingin membeli seragam dengan jilbab.
            Sarah pikir ia harus melakukan kerja lembur untuk mendapatkan ang agar mencukupi kebutuhan untuk membeli seragam. Ia bekerja dari siang sepulang sekolah sampai adzan ashar.
            Memang sulit ia untuk sekolah. Ia harus menyembunyikan seragamnya dan mengganti bajunya di mushalla dekat sekolahnya itu. Kadang orang tuanya merasa bingung kenapa sarah tak mau membantu ibunya berdagang dan hanya mau menjaga rumah saja. Tapi pikir ibunya itu lebih baik dari pada Sarah harus belajar menjadi perawat.
            Sudah 2 minggu sarah melakukan kerja lembur demi seragam sekolah itu. Tapi ketahanan tubuhnya mulai menurun. Saat upacara sekolah, ia terlihat sangat pucat dan lalu pingsan. Lalu Sarah dibawa ke Rumah sakit. Dan ternyata ia terkena penyakit tipus. Sarah tak sadarkan diri. Ia pingsan dan tertidurbeberapa lama.
            Lalu, dari pihak sekolah memanggil kedua orang tua Sarah. Ibua dan bapaknya yang tak tahu menahu tentang Sarah bersekolah sangat bingung dicampur marah. tetapi, segeralah Tia menjelaskan bahwa, setiap harinya, Sarah harus bekerja menjadi pengrajin bata sepulang sekolah sampai menjelang ashar. Ia juga harus suah untuk berjalan kaki sejauh 2 kilometer untuk menghemat baiya.
            Kedua orang tua Sarah kaget bukan main. Mereka lalu menunggui Sarah di Rumah Sakit sambil berharap Sarah segera sembuh.
            “Ha? Astaghfirullah. Ini diman?. Ibu? Bapak?”.
            “Sarah !. Kamu memang anak yang sangat nakal. Kamu melanggar perintah orang rua !”. Ucap ibu Sarah sambil menangis dan memeluknya dalam dekapannya.
            “Kamu tak perlu melakukan ini untuk hanya bisa bersekolah. Kamu pikir ibu tak mampu?. Kalau kamu mau sekolah, kamu harus janji pada ibu agar kamu mau bersungguh-sungguh tak dan bekerja lagi !” perintah ibu Sarah sambil menagis.
            Sarah tersenyum bahagia dan menjawab, “Iya bu. aku janji, aku akan menjadi perawat yang baik dan tak akan lagi menyembunyikannya dari ibu dan bapak”
            Kedua orang tua Sarah lalu tersadar akan kesungguhan Sarah untuk meraih cita-citanya itu. Merak membatalkan perjanjian mereka akan menikahkan Sarah dengan Udin dan Sarah dapat belajar dengan nyaman bersama teman-temannya tanpa halangan lagi.
ÝÝÝ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

.